Jumat, 14 Maret 2014

suratnya untuknya kala itu.



waktu berlalu begitu cept, bukan?

tak terasa beberapa waktu lagi kita tak akan bisa bertemu lagi di sini karena perbedaan tempat. kau disana dan aku disini. 

Tulisan ini mungkin tak akan pernah kau baca. Dan, memang tujuanku bukan untuk memamerkannya padamu tentang semua yang kurasakan. Aku hanya ingin membuat suatu perhentian waktu. Beberapa tahun lagi di saat aku dewasa, dan melihat tulisan ini, aku akan kembali ke waktu disaat aku membuatnya. Dengan begitu aku bisa tetap mengingatmu.

Tidak pernah berpikir sedikitpun dapat sejauh ini mengenalmu. Saat pertama kali kau menemukanku, mencariku bahkan saat pertama kali kita membuat komitmen untuk lebih dari sekedar pertemanan atau persahabatan. Dan, tidak berapa lama kemudian berakhir. Itu ternyata bukan untuk pertama kalinya. Beberapa kali telah kita coba, bersama-sama berjanji untuk dapat mempunyai rasa, menjaga hubungan, tetapi akhirnya menyerah juga.

Sebenarnya apa yang salah dengan kita? Atau, mungkin salah dari mereka? Kita sudah bersama-sama menyingkirkan semua kesalahan dan memperbaikinya, tetapi tetap saja berakhir. Mengapa? Ini seperti lengkingan besar yang menghalangiku jika mengingatmu, tetapi lengkingan ini tetap berakhir dengan lengkingan-lengkingan yang tak mampu untuk kujawab. Semoga di akhir tulisan ini aku mampu mendapat jawabannya.

                Kau aneh, cuek, misterius,  dan sedikit menyebalkan.

                Sangat sulit untuk mengertimu. Tapi mereka bilang, aku terlalu mengenalmu. Kau selalu melakukan hal-hal yang tidak dapat kupikirkan. Di saat kau memberitahu alasan dibalik apa yang kau lakukan aku tak pernah mampu untuk menyalahkannya. Karena kau selalu mempunyai tujuan baik di balik semuanya itu, tetapi terkadang caramu yang membuat itu menjadi salah. Cara untuk menjagaku agar tidak merasakan sakit dikemudian hari. Saat kau bilang, bahwa kau merasa tidak pantas menerima perasaan yang aku berikan kepadamu atau bahkan tak pantas untuk bersama-sama dengan perasaanku dan banyak orang yang beranggapan seperti itu, tapi kau malah memilih untuk menghadapinya sendiri.

                Tidakkah kau tau, bahwa akhirnya aku merasakan sakit lebih dari yang kau coba cegah?

                Aku pernah berfikir bahwa kau itu seperti badut. Sahabat dan teman-temanmu mengenalmu sebagai seorang yang asik , bisa mencairkan suasana, selalu mencoba untuk menghibur orang-orang di sekelilingmu. Kau tak pernah terlihat memiliki masalah yang fatal, seperi akan pergi atau lebih parah dari itu. Mungkin kau menjadi sedikit pendiam kalau kau sedang mengantuk, bertemu pelajaran yang kau benci atau mood sedang hilang, selebihnya kau tidak akan bisa diam.
               Sama seperti badut, dia akan selalu terlihat ceria, memperlihatkan senyum dan tawanya, tanpa kita pernah tau dimana titik kejenuhan sang badut, suasana hati apa yang sebenarnya ia sedang rasakan? Seperti kau yang selalu mencoba untuk tidak pernah membagi kesedihan kepada orang lain. Itu salah satu yang spesial darimu.

                Selain itu, kau bisa mengahargai dan melindungi wanita. Itu yang mampu membuatku menyukaimu.
                Kau mengajariku banyak hal. Bukan hanya sebagai orang yang pernah menjadi orang disisimu, tetapi juga sebagai sahabat dan teman leluconku bahkan sekali waktu kau bisa menjadi kakak atau bahkan orang tuaku. Mungkin jika kau melihat ini kau menyangka aku berlebihan menilaimu, atau mataku dibutakan oleh rasa seperti orang-orang yang sering bilang.
                Tidak.   

                Aku hanya mencoba untuk tidak selalu mengingat kesalahanmu, kesalahanku, kesalahan kita, bahkan kesalahan mereka. Kesalahanmu yang begitu cepat untuk pergi, kesalahanku yang membiarkanmu pergi, kesalah kita yang menyembunyikan perasaan yang kita punya. Kesalahan mereka yang menyalahkan kesalahan kita.

                Satu hal yang tidak akan pernah aku lupa darimu setelah kau pergi adalah tentang matahari. Secara tak langsung kau mengenalkan aku dengannya. Membuat aku bersahabat dan sangat menyukainya. Matahari tak pernah lelah menyinari bumi dari angkasa sana, cahaya yang selalu menyapaku dipagi hari.

                Matahari memberikan sinarnya untuk semua orang. Ia tak pernah memilih untuk siapa ia bersinar. Ia bersinar untuk siapa saja yang melihatnya dan juga tetap bersinar untuk siapa saja yang tidak melihatnya. Walaupun langit gelap karena hujan dan matahari tak menampakan dirinya tetapi sesungguhnya ia tetap berada disana, di tempatnya. Aku benar-benar menyukai matahari. Sayangnya, alasan utamanya bukan karena kau. Untukku, matahari itu seperti keyakinan dan kekuatan bahwa segalanya akan jadi mungkin kalau kita yakin dan juga berusaha.

                Apa kau kecewa? Ku harap tidak.

                 Kau aneh, kau berbeda dan kau tidak pernah mengumbar kata setia kecuali saat pertengkaran awal kita. Tapi kau menyimpan perasaan mu kemarin, dan semoga sampai saat ini. ku berharap akan dongeng putri tidur yang dijemput pangerannya mwehehehe, tapi aku yakin kau tidak ingin membiarkan itu terjadi kepadaku. Kau sedikit jahat bukan?

                Mungkin benar kata mereka aku mengenal dirimu. Tapi menurutku, ini bukan pengenalan yang berlebih ini itu seperti penilaian selama aku didekatmu.. bukan, bukan.. ini seperti penilaian setelah aku mulai menyukaimu sampai saat ini penilaian itu tetap berlaku. Dan apa yang sudah kau lakukan selama kita bersama, yang mungkin keliahatannya begitu menyakitkan untukku,tetapi aku yakin kau tidak pernah punya tujuan untuk itu. Ya bukan? mungkin kau hanya berpikir, semoga pilihan yang kau pilih itu yang terbaik untuk semuanya, bukan untuk kepentingan kamu atau aku saja.

                Aku tau sekarang.        

                Aku tidak perlu lagi bersusah payah untuk mencari jawaban mengapa kita akhirnya selalu gagal untuk bertahan lebih dari dua kali untuk mencoba lagi.

                Aku tidak perlu merasa kau tak adil terhadapku, selalu terlihat menyakiti dan mengorbankan perasaanku. Aku juga tidak perlu menyalahkanmu yang tidak mau peduli dan melihat seberapa lama aku mencoba untuk tetap bertahan. Kalau aku selalu bertanya mengapa, mengapa dan mengapa, aku akan selalu mencari kesalahan-kesalahan dan tidak menerima keadaan yang ada.
                Aku memiliki rasa ini bukan atas dasar “karena” tetapi “walaupun”. Aku bersyukur karena aku bisa mengenalmu, dengan satu paket kelebihan dan kekuranganmu. 
Aku menyayangimu apa adanya.
                Jadi apa yang aku rasakan sekarang sama sekali bukan kesalahanmu. 
Tapi itu pilihanku.
               Dan, satu hal lagi, bahwa ini kisah yang ingin aku simpan agar aku mengingatmu.