“Sudah berapa lama dirimu
bersahabat dengan rindu?”, tanyanya meledek
“Sudah lupa”, jawabku singkat
“Lalu, sudah berapa lama dirimu
memusuhi waktu?”, tanyanya kembali
“Sejak lama, mungkin sudah lebih
dari setengah tahun yang lalu”, tegasku
“Sedari tadi aku melihatmu resah,
ada apa?”, lanjutnya
Aku diam tak pedulikan bisingnya
“Handphone mu tidak akan berjalan
sendiri, jangan terlalu lama mencengkram nya di tangan mu”, ledeknya sembari
terkikih
“Aku sedang menunggu!” jawabku
ketus, “apa kau tak bosan bertanya terus kepadaku? Sebenarnya apa yang kau
inginkan dari semua pertanyaan ini?” jawabku melanjutkan
“Hmmm Aku hanya ingin tahu..
mengapa kau masih menanti dia? Berkeberatan kah kau bercerita kepadaku?”,
tanyanya
Aku terdiam
Lalu tersenyum, kemudian membuka
fikiran dan mulutku untuk bercerita
Aku mulai bercerita
Dia adalah Dia.
Isi dari kotak suratku,
Lembar-lembar yang tergurat kata yang kupetik dari segala penjuru kepalaku yang menafsirkan ribuan huruf dengan rasa yang melengkapinya,
Dia yang mampu memadamkan apa itu api rindu
Dia yang bisa meramaikan apa itu arti kesunyian rindu
Dia ruang pelangi yang kuwarnai dalam setiap hembusan puisi abadi yang kutemukan dalam setiap kedipan hati,
Bersamanya aku mengenal apa itu semesta yang ku rindukan.
Matanya, yang tak pernah lelah mencariku dimana ku berada
Hidungnya, menghembuskan nafas yang berbeda
Bibirnya, yang mampu menyuguhkan
senyuman yang terdapat dikelopak mata. Saat semua memburam yang slalu tampak
dalam pejam
Gurat wajahnya, mengisaratkan banyak emosi jiwa. Untuk marah, bahagia, sedih, kecewa dan banyak lainnya.
Bisakah segala tentang dirinya yang aku sebutkan itu mampu membuatku melawan rindu?
Masihkah aku harus bersahabat dengan waktu jika dia adalah perihal yang membuat kami terperangkap dalam penjara rindu?
Aku kemudian menghela nafas,
mengingat penuh wajahnya dalam pikiran. Lalu kulanjutkan kembali ceritaku tentang dirinya.
Aku slalu cemburu pada hujan. Dia slalu lebih dulu menyentuhnya ketimbang aku.
Aku slalu cemburu pada angin. Dia slalu menyisir rambutmu ketimbang jemariku.
Aku slalu cemburu pada hari liburnya. Membuatnya bermanja-manja sepanjang hari yang tidak pernah ada aku menyusup di dalamnya.
Sampai kapan aku lelah menunggu? Menunggu dirinya dalam banyak hal yang memaksa aku duduk dalam pangkuan kursi tunggu. Aku tidak mau sampai lelah menunggu, aku takut hati ini sepi, kemudian mati suri.
Tapi aku berusaha menekankan, bahwa sejatinya aku tidaklah sedang menunggu. Aku hanya menghitung mundur waktu, menganyam detik-detik di tiap putaran arloji raksasa dalam hidupku. Menghitung sudah berapa banyak detik yang terlewatkan tanpanya untuk kemudian memastikan dirinya benar-benar ada untukku, bersamaku, tidak pernah lagi membiarkanku menghitung waktu sendiri.
Dia hanya diam mendengarkan semua
ocehanku.Panjang lebar sudah aku ceritakan
isi hati, tapi dia yang banyak bertanya tadi, sekarang terdiam dingin. Sedingin
dinding kamar. Iya, memang, yang bertanya banyak tadi adalah dinding kamarku,
yang mengenalku sudah bukan hitungan bulan pastinya. Melihatku di tiap petang,
dingin yang menjagaku dan menghangatkan. Sahabat terbaik saat menunggu kabar
darinya, saksi mata di tiap tangis dan tawaku untukmu. Pengintip disetiap kami
berbalas pesan, juga penguping di setiap obrolan telephone kami. Terima kasih
sudah menemani ku :)