"cinta butuh waktu agar terasa.." katamu kala itu
senyumannya adalah bagian utama yang ku hafal. setiap pagi aku menikmati senyumnya di depan serambi kelasku yang dulu pernah ku tempati. senyumnya begitu khas, aneh, juga berbeda.
senyumnya seperti pasokan energi yang selalu mampu membuatku meningatnya.
tapi berbeda dengan saat ini, dia yang begitu ku damba pergi begitu saja dari pandanganku.
hilang membawa lari hati juga perasaanku. terlalu cepat ia bersembunyi dan menempatkan diri pada hati lainnya.
"Tuan, mengapa begitu cepat? bahkan luka ini pun belum sembuh"
surat yang ntah ke-berapa. tulisan bodoh dari wanita tolol yang tak pernah kau gubris sedikitpun..
tulisan yang tak pernah kau lihat, baca apa lagi kau pahami ini tlah sering dia tulis. meski setiap mengingatmu hatinya teriris.
aku ingin bercerita tentang wanita itu, dia yang sedang belajar sibuk mencari hal-hal yang mampu membuatnya melupakanmu dengan cepat.
wanita itu tentu kau mengenalnya. karena dulu kau sempat berada dalam keadaan baik-baik saja dengannya, sebelum akhirnya kau membuatnya terluka begitu dalam.
tapi, sekarang wanita itu sudah bukanlah wanita yang selalu terpuruk lagi.
apa kau tau betapa susahnya wanita itu melupakanmu, Tuan?
wanita itu begitu berusaha melepaskan hati ketika kau memilih pergi, Tuan.
wanita itu susah payah mencari teman curhat, mencari teman yang senasib dengannya.
mendapatkan sosok-sosok baru.
hingga pada akhirnya dia tau bagaimana kamu.
namun, kerika dia tau semua kebohonganmu, dia sama sekali tak membencimu.
dalam sakitnya dia selalu menyempatkan hadir menemui Tuhan-nya, mengadu dengan buliran air mata dan bibir yang diam membeku.
"Tuan, Mengapa menerimamu begitu mudah untukku? mengapa melepaskanmu begitu sulit untukku?" tanyanya berulang kali yang tak pernah mendapat jawaban pasti dari Tuan yang di kaguminya.
ya, sedari tadi Tuan itu kamu..
wanita itu tau kamu sekarang jauh lebih bahagia..
kamu bukan lagi mentari yang mampu menghangatkannya, bukan juga bintang yang menerangi malamnya, atau pelangi yang mampu memberi warna untuknya..
kamu sekarang itu awan abu-abu berteman bersama sang kilap yang mampu menakutinya. lalu membuatnya menampung air di kelopak matanya, menderaskan butiran air di pipinya yang mengalir selalu untukmu..
dia punya rindu di dadanya.
dia punya rsa hampa karna kekosongan yang dia lewati tanpa kau disisinya.
dia masih tetap rindu bercakap basa-basi atau terlibat dalam obrolan seru bersamamu, Tuan..
meski selalu diartikan olehmu hanya obrolan singkat yang biasa saja.
tapi apa kau juga tau? baginya walau hanya percakapan singka segala hal-hal tentangmu terlihat begitu besar dmatanya..
dengan bekas luka di dadanya dia sadar ada yang jauh harus diperjuangkan selain rasa rindunya .
kamu yang terus saja berubah menjadi semkin berbeda semakin jauh dari yang dia kenal telah begitu menyakiti hatinya.
bekas luka yang belum benar-benar sembuh, dia tetap berusaha melupakanmu.
berjalan tegar dengan kekuatan yang dia punya.
berusaha begitu kuat bahkan lebih kuat dari yang biasa ia tunjukan kepadamu.
dia yakin waktu untuk saat itu akan segera datang.
dia percaya bahwa kelak dia akan terbahak menertawakan lukanya dan kamu justru yang berbalik menangisinya.
"Tuan, waktu itu akan segera datang, percayalah kamu akan mengetahui sakitku ini Tuan :)"
senyumannya adalah bagian utama yang ku hafal. setiap pagi aku menikmati senyumnya di depan serambi kelasku yang dulu pernah ku tempati. senyumnya begitu khas, aneh, juga berbeda.
senyumnya seperti pasokan energi yang selalu mampu membuatku meningatnya.
tapi berbeda dengan saat ini, dia yang begitu ku damba pergi begitu saja dari pandanganku.
hilang membawa lari hati juga perasaanku. terlalu cepat ia bersembunyi dan menempatkan diri pada hati lainnya.
"Tuan, mengapa begitu cepat? bahkan luka ini pun belum sembuh"
surat yang ntah ke-berapa. tulisan bodoh dari wanita tolol yang tak pernah kau gubris sedikitpun..
tulisan yang tak pernah kau lihat, baca apa lagi kau pahami ini tlah sering dia tulis. meski setiap mengingatmu hatinya teriris.
aku ingin bercerita tentang wanita itu, dia yang sedang belajar sibuk mencari hal-hal yang mampu membuatnya melupakanmu dengan cepat.
wanita itu tentu kau mengenalnya. karena dulu kau sempat berada dalam keadaan baik-baik saja dengannya, sebelum akhirnya kau membuatnya terluka begitu dalam.
tapi, sekarang wanita itu sudah bukanlah wanita yang selalu terpuruk lagi.
apa kau tau betapa susahnya wanita itu melupakanmu, Tuan?
wanita itu begitu berusaha melepaskan hati ketika kau memilih pergi, Tuan.
wanita itu susah payah mencari teman curhat, mencari teman yang senasib dengannya.
mendapatkan sosok-sosok baru.
hingga pada akhirnya dia tau bagaimana kamu.
namun, kerika dia tau semua kebohonganmu, dia sama sekali tak membencimu.
dalam sakitnya dia selalu menyempatkan hadir menemui Tuhan-nya, mengadu dengan buliran air mata dan bibir yang diam membeku.
"Tuan, Mengapa menerimamu begitu mudah untukku? mengapa melepaskanmu begitu sulit untukku?" tanyanya berulang kali yang tak pernah mendapat jawaban pasti dari Tuan yang di kaguminya.
ya, sedari tadi Tuan itu kamu..
wanita itu tau kamu sekarang jauh lebih bahagia..
kamu bukan lagi mentari yang mampu menghangatkannya, bukan juga bintang yang menerangi malamnya, atau pelangi yang mampu memberi warna untuknya..
kamu sekarang itu awan abu-abu berteman bersama sang kilap yang mampu menakutinya. lalu membuatnya menampung air di kelopak matanya, menderaskan butiran air di pipinya yang mengalir selalu untukmu..
dia punya rindu di dadanya.
dia punya rsa hampa karna kekosongan yang dia lewati tanpa kau disisinya.
dia masih tetap rindu bercakap basa-basi atau terlibat dalam obrolan seru bersamamu, Tuan..
meski selalu diartikan olehmu hanya obrolan singkat yang biasa saja.
tapi apa kau juga tau? baginya walau hanya percakapan singka segala hal-hal tentangmu terlihat begitu besar dmatanya..
dengan bekas luka di dadanya dia sadar ada yang jauh harus diperjuangkan selain rasa rindunya .
kamu yang terus saja berubah menjadi semkin berbeda semakin jauh dari yang dia kenal telah begitu menyakiti hatinya.
bekas luka yang belum benar-benar sembuh, dia tetap berusaha melupakanmu.
berjalan tegar dengan kekuatan yang dia punya.
berusaha begitu kuat bahkan lebih kuat dari yang biasa ia tunjukan kepadamu.
dia yakin waktu untuk saat itu akan segera datang.
dia percaya bahwa kelak dia akan terbahak menertawakan lukanya dan kamu justru yang berbalik menangisinya.
"Tuan, waktu itu akan segera datang, percayalah kamu akan mengetahui sakitku ini Tuan :)"