Aku berdiam diri.
Dalam pemikiran lalu lalang yang sebenarnya
memiliki alasan.
Dalam rasa keingintahuan yang sebenarnya
memiliki tujuan.
Dalam remang lampu kamar yang menyelimuti mata,
dan perlahan mulai sembap bersama isak tangisan.
Dalam kekacauan hati yang antah berantah,
mengajak menarik waktu untuk kembali disaat perselisihan.
Ini semua terjadi bukan tanpa sebab.
Begini hanya karena merindu seorang yang sikap
dan sifatnya begitu acuh, yang tak pernah paham arti merindu.
Begitu melelahkan jika harus berlari mengejar
apa itu kabar, apa itu perhatian dan pengertian.
Masih saja bertahan dalam kepiluan sepi dan
pikiran akan itu kekhawatiran.
Aku memang terlalu bengal, mencintaimu di luar
batas akal.
Tapi aku tegaskan, rasa ini bisa saja berubah
haluan karena lelah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar