Jumat, 01 Maret 2013

karna kamu adalah bagian ceritaku..

“Sudah berapa lama dirimu bersahabat dengan rindu?”, tanyanya meledek

“Sudah lupa”,  jawabku singkat

“Lalu, sudah berapa lama dirimu memusuhi waktu?”, tanyanya kembali

“Sejak lama, mungkin sudah lebih dari setengah tahun yang lalu”, tegasku

“Sedari tadi aku melihatmu resah, ada apa?”, lanjutnya
Aku diam tak pedulikan bisingnya

“Handphone mu tidak akan berjalan sendiri, jangan terlalu lama mencengkram nya di tangan mu”, ledeknya sembari terkikih

“Aku sedang menunggu!” jawabku ketus, “apa kau tak bosan bertanya terus kepadaku? Sebenarnya apa yang kau inginkan dari semua pertanyaan ini?” jawabku melanjutkan

“Hmmm Aku hanya ingin tahu.. mengapa kau masih menanti dia? Berkeberatan kah kau bercerita kepadaku?”, tanyanya

Aku terdiam

Lalu tersenyum, kemudian membuka fikiran dan mulutku untuk bercerita

Aku mulai bercerita

  

Dia adalah Dia.

Isi dari kotak suratku,

Lembar-lembar yang tergurat kata yang kupetik dari segala penjuru kepalaku yang menafsirkan ribuan huruf dengan rasa yang melengkapinya,

Dia yang mampu memadamkan apa itu api rindu

Dia yang bisa meramaikan apa itu arti kesunyian rindu

Dia ruang pelangi yang kuwarnai dalam setiap hembusan puisi abadi yang kutemukan dalam setiap kedipan hati,

Bersamanya aku mengenal apa itu semesta yang ku rindukan.

Matanya, yang tak pernah lelah mencariku dimana ku berada

Hidungnya, menghembuskan nafas yang berbeda

Bibirnya, yang mampu menyuguhkan senyuman yang terdapat dikelopak mata. Saat semua memburam yang slalu tampak dalam pejam

Gurat wajahnya, mengisaratkan banyak emosi jiwa. Untuk marah, bahagia, sedih, kecewa dan banyak lainnya.

Bisakah segala tentang dirinya yang aku sebutkan itu mampu membuatku melawan rindu?

Masihkah aku harus bersahabat dengan waktu jika dia adalah perihal yang membuat kami terperangkap dalam penjara rindu?

 

Aku kemudian menghela nafas, mengingat penuh wajahnya dalam pikiran. Lalu kulanjutkan kembali ceritaku tentang dirinya.

 

Aku slalu cemburu pada hujan. Dia slalu lebih dulu menyentuhnya ketimbang aku.

Aku slalu cemburu pada angin. Dia slalu menyisir rambutmu ketimbang jemariku.

Aku slalu cemburu pada hari liburnya. Membuatnya bermanja-manja sepanjang hari yang tidak pernah ada aku menyusup di dalamnya.

Sampai kapan aku lelah menunggu? Menunggu dirinya dalam banyak hal yang memaksa aku duduk dalam pangkuan kursi tunggu. Aku tidak mau sampai lelah menunggu, aku takut hati ini sepi, kemudian mati suri.

Tapi aku berusaha menekankan, bahwa sejatinya aku tidaklah sedang menunggu. Aku hanya menghitung mundur waktu, menganyam detik-detik di tiap putaran arloji raksasa dalam hidupku. Menghitung sudah berapa banyak detik yang terlewatkan tanpanya untuk kemudian memastikan dirinya benar-benar ada untukku, bersamaku, tidak pernah lagi membiarkanku menghitung waktu sendiri.

Dia hanya diam mendengarkan semua ocehanku.Panjang lebar sudah aku ceritakan isi hati, tapi dia yang banyak bertanya tadi, sekarang terdiam dingin. Sedingin dinding kamar. Iya, memang, yang bertanya banyak tadi adalah dinding kamarku, yang mengenalku sudah bukan hitungan bulan pastinya. Melihatku di tiap petang, dingin yang menjagaku dan menghangatkan. Sahabat terbaik saat menunggu kabar darinya, saksi mata di tiap tangis dan tawaku untukmu. Pengintip disetiap kami berbalas pesan, juga penguping di setiap obrolan telephone kami. Terima kasih sudah menemani ku :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar