KADANG, kita mencintai seseorang begitu rupa sampai tak
menyisakan tempat bagi yang lain.
“apa kau tak menyesal mencintai lelaki itu?” tanya seorang
sahabatnya yang membuatnya terkejut
“hah? Apa maksudmu?” jawab gadis itu kebingungan
“apa kau tak menyesal mencintai lelaki itu?” tanya ulang
sahabatnya.
Ia diam .. berfikr.. lalu menjawab,
“bukankah memang begitu cintai seharusnya?” ucap dia “memberikan
senyuman untuk dia yang kita cinta meski diam-diam menumpuk sedih sangat banyak
di dalam hati.” Jawabnya lanjut.
“jadi kau benar-benar tak menyesalinya?” tanya sahabatnya
lagi
“aku tak pernah sedikitpun menyesali apa yang ku lakukan,
apalagi menyesali untuk mencintai dia.. kurasa itu tak ada dalam catatan
hidupku.”
“oooh.. mengapa kau terlalu bodoh? Apa kau tak sadar ini
semua tindakan bodoh? Kau mencintai dia ! lelaki itu ! yang tak pernah sadar
bahwa kau mencintainya bahkan tak pernah sedikitpun mencari keberadaanmu atau
sedikit peka terhadap tingkahmu, sadarlah !” jawab sahabatnya dengan nada
membentak nyaris memamerkan kekesalannya.
“aku tahu itu.. tapi ya memang itu lah resiko ku sebagai
seseorang yang mencintainya diam-diam” ucapnya santai
Ya.. seperti itulah dia (seorang perempuan aneh yang
menyukai lelaki itu, mungkin sudah kedalam tahap mencintai). Yang diam-diam
mencintai lelaki itu, lelaki dingin yang dinginnya seperti batu es beku yang disimpan di dalam kulkas
selama 1 tahun, lelaki yang mempunya
prinsip ‘untuk apa mengejar? Jika saya suka pun saya diamkan saja perasaan itu,
seiring berjalannya waktu pun akan mengilang perasaan itu’ (prinsip yang benar”
aneh) , lelaki yang keras dan beremosional tinggi, dan masih banyak lagi
keanehan dalam lelaki itu yang dipandang dia sebagai kelebihannya..
Hahahaha... aneh bukan?
Ya .. begitulah dia,.
Dia tetap mencintai lelaki itu walaupun dia tahu bahwa
lelaki itu tak sedikitpun membalas perasaannya itu, dan yang lebih menyakitkan
dia tahu bahwa lelaki itu menyukai perempuan lain. Sedikitpun dia tak berniat
menyesali atau berhenti mencintai lelaki itu.
Apa benar ini yang dinamakan cinta ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar